Cover
Cover
Daerah  

Transformasi Ekonomi Biru Berkelas Dunia: Pemkab Mamuju Gandeng Unhas Dan Mitra Internasional Dorong Industrialisasi Rumput Laut

banner 120x600
banner 468x60

Mamuju, LintasDesaNusantara.Com

Pemerintah Kabupaten Mamuju melalui Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) menegaskan komitmennya dalam mewujudkan visi “Mamuju Keren” melalui transformasi sektor kelautan yang berbasis pada prinsip Ekonomi Biru (Blue Economy).

Pemerintah Kabupaten Mamuju kembali menegaskan kepemimpinannya dalam mendorong transformasi ekonomi daerah melalui penguatan sektor kelautan berbasis blue economy.

Melalui Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP), langkah progresif ditempuh dengan menggandeng kalangan akademisi nasional dan peneliti internasional guna menjadikan Mamuju sebagai pusat pengembangan rumput laut berkelas dunia.

Komitmen ini ditunjukkan dalam Focus Group Discussion (FGD) yang menghadirkan para pemangku kepentingan strategis.

Plt. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Mamuju, Muhammad Yusuf, menegaskan bahwa arah kebijakan pemerintah kini telah berbasis data dan riset (evidence-based policy), sebagai fondasi utama dalam memastikan setiap program berdampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir.

“Pemerintah tidak lagi berjalan dengan pendekatan konvensional. Kami memastikan setiap kebijakan lahir dari riset yang kredibel, terukur, dan terintegrasi dengan perkembangan teknologi,” tegasnya.

Kolaborasi Global Berbasis Riset Strategis
Sebagai bagian dari akselerasi transformasi, Pemkab Mamuju menjalin kemitraan strategis dengan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Hasanuddin, serta jejaring riset internasional melalui skema Partnership for Australia-Indonesia Research (PAIR).

Penelitian bertajuk “Strengthening Policy and Governance to Support the Circular Economy in the Seaweed Industry” yang dipimpin oleh Prof. Dr. Ambo Tuwo, DEA., menjadi pijakan penting dalam merumuskan arah kebijakan pengembangan industri rumput laut berbasis ekonomi sirkular.

Riset ini melibatkan kolaborasi lintas perguruan tinggi terkemuka, di antaranya Universitas Hasanuddin, Institut Pertanian Bogor, Universitas Airlangga, hingga University of Queensland, Australia. Fokus utamanya adalah menyelaraskan kebijakan antara pemerintah daerah dan pusat, sekaligus mengintegrasikan praktik ekonomi sirkular mulai dari budidaya, pengolahan, hingga pengelolaan limbah.

Dengan pendekatan ini, Mamuju tidak hanya menjadi lokasi penelitian, tetapi juga menjadi model pengembangan industri rumput laut berkelanjutan di Indonesia bagian timur.

Mengoptimalkan Potensi, Mengoreksi Kesenjangan
La ode Sabaruddin salah satu peneliti yang hadir delegasi Universitas Airlangga menegaskan. Secara geografis, Kabupaten Mamuju memiliki potensi lahan budidaya rumput laut seluas 8.927 hektare, dengan komoditas unggulan Eucheuma cottonii dan Gracilaria sp. yang memiliki kualitas kompetitif di pasar nasional.

Namun demikian, tantangan struktural masih dihadapi, mulai dari lemahnya pencatatan data produksi, menurunnya jumlah pembudidaya, hingga belum berkembangnya industri pengolahan di tingkat daerah.

Akibatnya, selama ini nilai tambah ekonomi justru lebih banyak dinikmati daerah lain.
Melalui riset kolaboratif ini, pemerintah berupaya melakukan koreksi menyeluruh terhadap tata kelola sektor rumput laut, termasuk mendorong perbaikan sistem data sebagai dasar kebijakan anggaran, distribusi bantuan, dan penguatan sumber daya manusia.

Hilirisasi sebagai Kunci Kedaulatan Ekonomi Daerah
Pemkab Mamuju secara tegas mengarahkan transformasi sektor ini pada penguatan hilirisasi. Rumput laut tidak lagi diposisikan sebagai komoditas mentah, melainkan sebagai bahan baku industri bernilai tambah tinggi.

Berbagai inovasi produk olahan seperti makanan berbasis rumput laut—mulai dari brownies, bakso, hingga kerupuk—terus didorong untuk berkembang di tingkat rumah tangga dan UMKM.
“Kami ingin memastikan perputaran ekonomi tidak keluar dari daerah. Petani harus naik kelas, dari sekadar produsen bahan mentah menjadi pelaku industri,” ujar Muhammad Yusuf.

Zonasi Berkelanjutan dan Penguatan SDM
Dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan, Pemkab Mamuju tengah menyusun Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) untuk penataan zonasi budidaya, khususnya di kawasan pesisir barat Pulau Karampuang.

Di sisi lain, penguatan kapasitas sumber daya manusia dilakukan secara sistematis melalui pendekatan blended learning, yang mengintegrasikan pelatihan teknis lapangan dengan pemanfaatan teknologi digital.

Menuju Pusat Industri Rumput Laut Nasional
Dengan landasan riset yang kuat, dukungan teknologi, serta jejaring kolaborasi internasional, Pemkab Mamuju optimistis mampu memperkuat posisi dalam rantai pasok nasional, bahkan menembus pasar global.

Lebih dari itu, transformasi ini menjadi bagian dari visi besar menjadikan Mamuju sebagai pusat industri rumput laut terintegrasi—yang tidak hanya menghasilkan komoditas unggulan, tetapi juga menciptakan ekosistem ekonomi pesisir yang modern, mandiri, dan berdaya saing tinggi.

Langkah ini sekaligus menegaskan bahwa pemerintah daerah hadir tidak sekadar sebagai regulator, tetapi sebagai motor penggerak perubahan yang mampu mengorkestrasi potensi lokal menjadi kekuatan ekonomi masa depan.

Transformasi Ekonomi Biru: Pemkab Mamuju Kerja sama Unhas dan Peneliti Australia Garap Potensi Rumput Laut Kelas Dunia

((( RUSLI KACUPING )))

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *